Selamat Datang Di Blog MWC NU Punggur Kabupaten Lampung Tengah & Selamat Tahun Baru 1443 H Selamat dan Sukses Muktamar NU Ke-34 di Lampung

Profil KH Hasyim Asy'ari Sang Pendiri NU

 Profil KH Hasyim Asy'ari Sang Pendiri NU

MWC NU Punggur - Sebagai warga Nahdliyin tentunya sudah familier dan faham tentang para pendiri-pendirinya. Untuk kali ini admin akan berbagi sebuah profil tokoh ternama di Indonesia dan Dunia. Seorang Pendiri sebuah Organisasi terbesar Di Indonesia Nahdlatul Ulama yang sekaligus sebagai Pahlawanan Nasional Indonesia. 
Fotho Ilustrasi KH. Hasyim Asy'ari
Nahdlatul Ulama lebih tua umurnya dari usia kemerdekaan Indonesia. Ada KH. Hasyim Asy'ari di belakang organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Kakek Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini yang mendirikan Nahdlatul Ulama atau biasa disingkat NU.

Profil KH Hasyim Asy'ari Sang Pendiri NU

KH Hasyim Asy’ari memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim. Kiai Hasyim lahir dari pasangan Kiai Asy’ari dan Halimah pada Selasa kliwon, tanggal 14 Februari tahun 1871 Masehi atau bertepatan dengan 12 Dzulqa’dah tahun 1287 Hijriah. Tempat kelahirannya berada di sekitar 2 kilometer ke arah utara dari kota Jombang, tepatnya di Pesantren Gedang. 

Garis keturunannya adalah ayahnya Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim atau yang populer dengan nama Pangeran Benawa bin Abdul Rahman yang juga dikenal dengan julukan Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya) bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatah bin Maulana Ishaq bin Ainul Yakin yang dikenal sebagai Sunan Giri. 

Sedangkan dari jalur ibu adalah Halimah binti Layyinah binti Sihah bin Abdul Jabbar bin Ahmad bin Pangeran Sambo bin Pangeran Benawa bin Jaka Tingkir atau juga dikenal dengan nama Mas Karebet bin Lembu Peteng (Prabu Brawijaya VI). 

Jika dilihat dari silsilah kedua jalur tersebut, Kiai Hasyim merupakan gabungan dari dua trah sekaligus. Pertama, bangsawan Jawa dan elite agama (Islam). Dari jalur ayah, merupakan bangsawan muslim Jawa (Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir) dan sekaligus elite agama Jawa (Sunan Giri). Sementara dari jalur ibu, masih keturunan langsung Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng) yang berlatar belakang bangsawan Hindu Jawa.

Di masa kanak-kanak, Kiai Hasyim hidup dalam lingkungan pesantren tradisional Gedang, salah satu pesantren yang pernah menjadi pusat perhatian terutama dari santri-santri Jawa pada akhir abad ke-19. Pesantren tersebut didirikan kakeknya dari jalur ibu, Kiai Utsman. Sementara kakek buyutnya bernama Kiai Sihah dikenal luas sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Tambak Beras Jombang. Ayahnya sendiri, Kiai Asy’ari adalah pendiri Pesantren Keras. 

Saat  berumur lima tahun Kiai Hasyim berpindah dari Gedang ke Desa Keras, sebuah desa di sebelah selatan kota Jombang mengikuti ayah dan ibunya yang sedang membangun sebuah pesantren baru. Di Tempat tinggal yang baru ini,Kiai Hasyim menghabiskan masa kecilnya hingga berumur 15 tahun, yang pada akhirnya meninggalkan Keras dan menjelajahi berbagai pesantren hingga ke Mekkah.

Ketika berusia 21 tahun, Kiai Hasyim menikah dengan Nafisah, putri Kiai Ya’qub, Siwalan Panji, Sidoarjo pada tahun 1892 M/1308 H. Tidak lama kemudian, Kiai Hasyim bersama istri dan mertuanya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Bersama istrinya, Nafisah, Kiai Hasyim kemudian melanjutkan tinggal di Mekkah untuk menuntut ilmu. 

Tujuh bulan kemudian, Nafisah meninggal dunia setelah melahirkan seorang putra bernama Abdullah. Namun, empat puluh hari kemudian, Abdullah turut menyusul ibunya dipanggil Allah SWT. Kejadian ini membuat Kiai Hasyim merasa sangat terpukul dan akhirnya memutuskan tidak berlama-lama di Tanah Suci dan kembali ke Tanah Air setahun kemudian.

Kiai Hasyim lalu menikah lagi dengan Khadijah, seorang gadis putri Kiai Romli dari Desa Karangkates ( Kediri ) pada tahun 1899 M/1325 H. Pernikahannya dengan istri kedua juga tidak bertahan lama, karena dua tahun kemudian pada 1901, Khadijah juga meninggal.

Kiai Hasyim menikah lagi untuk ketiga kalinya dengan gadis Nafiqah, putri Kiai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari perkawinan ini, keduanya dikaruniai sepuluh orang anak, yaitu : 
  1. Hannah, 
  2. Khoiriyah, 
  3. Aisyah, 
  4. Azzah, 
  5. Abdul Wahid, 
  6. Abdul Hakim, 
  7. Abdul Karim, 
  8. Ubaidillah, 
  9. Mashurah, dan 
  10. Muhammad Yusuf. 
Namun pada tahun 1920 M Nyai Nafiqah juga meninggal dunia. Kiai Hasyim begitu sabar menghadapi cobaan tersebut. 

Untuk keempat kalinya, Kiai Hasyim menikahi Masrurah, putri Kiai Hasan pengasuh Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kiai Hasyim mendapat empat orang anak yaitu :
  1. Abdul Qadir, 
  2. Fatimah, 
  3. Khadijah, dan 
  4. Muhammad Ya’qub. 
Pernikahan dengan Masrurah ini merupakan perkawinan terakhir bagi Kiai Hsyim hingga akhir hayatnya.

Riwayat Pendidikan KH. M. Hasyim Asy’ari

Berlatar belakang keluarga pesantren, Kiai Hasyim menperoleh pendidikan agama dari sang ayah langsung. Kecerdasan Kiai Hasyim cukup menonjol, belum genap berumur 13 tahun,Beliau mampu menguasai berbagai bidang kajian Islam dan dipercaya membantu ayahnya mengajar santri yang lebih senior.

Kiai Hasyim kemudian memulai menjelajahi beberapa pesantren. 
  1. Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), 
  2. Pesantren Langitan (Tuban). 
  3. Pesantren Tenggilis (Surabaya), 
  4. Pesantren Kademangan (Bangkalan), yang saat itu diasuh Kiai Kholil Bangkaalan Madura.  

Setelah dari pesantren Kiai Kholil, Kiai Hasyim melanjutkan ke Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo) yang diasuh Kiai Ya’kub. Atas nasihat gurunya Kiai Ya’kub, Kiai Hasyim akhirnya meninggalkan Tanah Air untuk berguru pada ulama-ulama terkenal di Mekkah sambil menunaikan ibadah haji untuk kali kedua. 

Selama di Mekkah, Kiai Hasyim berguru pada syaikh Ahmad Amin al-Attar, Sayyid Sultan bin Hashim, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Attas, Syaikh Sa’id al-Yamani, Sayyid Alawi bin Ahmad al-Saqqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawi, Syaikh Salih Bafadal, dan Syaikh Sultan Hasim Dagastana, Syaikh Shuayb bin Abd al-Rahman, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Rahmatullah, Sayyid Alwi al-Saqqaf, Sayyid Abu Bakr Shata al-Dimyati, dan Sayyid Husayn al-Habshi yang saat itu menjadi mufti di Mekkah. 

Selain itu, Kiai Hasyim juga menuntut ilmu pengetahuan dari ulama asal Nusantara yang bermukim di tanah Arab seperti Syaikh Ahmad Khatib Minankabawi Sumatra Barat, Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikh Mahfuz al-Tirmisi. 

Prestasi belajar Kiai Hasyim yang berbeda dengan yang lainnya, membuatnya kemudian juga memperoleh kepercayaan untuk mengajar di Masjid al-Haram. Beberapa ulama terkenal dari berbagai negara tercatat pernah belajar kepadanya. Di antaranya Syaikh Sa’d Allah al-Maymani (mufti di Bombay, India), Syaikh Umar Hamdan (ahli hadith di Mekkah), al-Shihan Ahmad bin Abdullah (Syiria), KH. Abdul Wahhanb Chasbullah (Tambakberas, Jombang), K. H. R Asnawi (Kudus), KH. Dahlan (Kudus), KH. Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang), dan KH. Saleh (Tayu).

Ketika masih di Mekkah, Kiai Hasyim sudah memiliki ketertarikan tersendiri dengan tarekat. Bahkan, Kiai Hasyim juga sempat mempelajari dan mendapat ijazah tarekat Qadiriyah wa Naqshabandiyah melalui salah melalui salah satu gurunya, Syaikh Mahfuz.

Mendirikan Pesantren Tebuireng

Pintu Masuk Pondok Tebuireng, Makam KH. Hasyim Asy'ari
Tahun 1899, Kiai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di sana Kiai Hasyim membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu atau dalam bahasa Jawa disebut tratak, sebagai tempat tinggal.

Dari sebuah bangunan kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Kiai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan dalam waktu tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.

Komite Hijaz dan Pendirian Nahdlatul Ulama

Pada masa Raja Saudi Arabia Ibnu Saud berencana menjadikan mazab Wahabi sebagai mazhab resmi Negara, dia juga berencana menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang selama ini banyak diziarahi kaum muslimin, karena dianggap bid'ah.

Di Indonesia, rencana tersebut mendapat sambutan hangat kalangan modernis seperti Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) di bawah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang menghormati keberagaman, menolak pembatasan mazab dan penghancuran warisan peradaban itu. Akibatnya, kalangan pesantren dikeluarkan dari keanggotaan Kongres Al Islam serta tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekkah, yang akan mengesahkan keputusan tersebut.

Kiai Hasyim bersama para pengasuh pesantren membuat delegasi yang dinamai Komite Hijaz yang diketuai KH. Wahab Hasbullah untuk menghadap Raja Ibnu Saud untuk mengurungkan niatnya. Dari berbagai penjuru dunia juga menentang Ibnu Saud untuk membatalkan rencana tersebut. Hasilnya, hingga saat ini umat Islam bebas melaksanakan ibadah di Mekkah sesuai mazab masing-masing.

Tahun 1924, kelompok diskusi taswirul afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus syeikh KH. Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya, meminta waktu untuk mengerjakan salat istikharah, menohon petunjuk dari Allah.

Dinanti-nanti sekian lama, petunjuk itu belum datang juga hingga membuat Kiai Hasyim gelisah. Dalam hati kecilnya ia ingin berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif, Bangkalan.


Sementara Kiai Khalil telah mengetahui apa yang dialami Kiai Hasyim lalu mengutus seorang santrinya bernama As’ad Syamsul Arifin, kelak menjadi pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Situbondo, untuk menyampaikan sebuah tongkat kepada Kiai Hasyim di Tebuireng. As’ad juga dipesani agar setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kiai Hasyim.

Ketika Kiai Hasyim menerima kedatangan As’ad, dan mendengar ayat tersebut, hatinya langsung bergetar. ”Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan tercapai,” ujarnya lirih sambil meneteskan air mata.

Satu tahun kemudian (1925), pemuda As’ad kembali datang menemui Hadratus Syeikh. ”Kiai, saya diutus Kiai Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar pemuda Asad sambil menunjukkan tasbih yang dikalungkan Kiai Kholil di lehernya.

Tangan As’ad belum pernah menyentuh tasbih sersebut, meskipun perjalanan antara Bangkalan menuju Tebuireng sangat jauh dan banyak rintangan. Bahkan ia rela tidak mandi selama dalam perjalanan, sebab khawatir tangannya menyentuh tasbih.

”Kiai Kholil juga meminta untuk mengamalkan wirid Ya Jabbar, Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Kehadiran As’ad yang kedua ini membuat hati Kiai Hasyim semakin mantap. Hadratus Syeikh menangkap isyarat bahwa gurunya tidak keberatan jika ia bersama ulama lain mendirikan organisasi/jam’iyah. Inilah jawaban yang dinanti-nantinya melalui salat istikharah.

Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M, organisasi Nahdlatul Ulama, yang artinya kebangkitan ulama secara resmi didirikan. Kiai Hasyim dipercaya sebagai Rais Akbar pertama.

Karya KH. Hasyim Asy’ari

Beberapa karya KH. Hasyim Asy’ari yang masih bisa ditemui dan menjadi kitab wajib dipelajari di pesantren-pesantren Nusantara sampai sekarang.
  1. At-Tibyan fi al-Nahy’an Muqatha’at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan
  2. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama
  3. Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah
  4. Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama
  5. Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim fi ma Yanhaju Ilaih al-Muta’allim fi Maqamati Ta’limihi
  6. Rasalah Ahl aas-Sunnah wa al-Jamaah fi Hadts al-Mauta wa Syuruth as-Sa’ah wa Bayani Mafhum as-Sunnah wa al-Bid’ah.
Ikuti terus lanjutan kisah-kisah para alim ulama lainnya tetap di blog kami mwcnupunggur.com.
Terimakasih, Wallahul muwaffiq ila aqwamit-tharieq Wassalamu'alaikum Wr. Wb( Andikabm )

Belum ada Komentar untuk "Profil KH Hasyim Asy'ari Sang Pendiri NU"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel